Cabai Hasil Bioteknologi Balitbangtan untuk Petani Pacet

Pemerintahan

BADAN Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian (Kementan) terus menghasilkan berbagai teknologi, seperti varietas unggul, teknologi pengelolaan tanah dan air, teknologi budidaya, dan alat mesin pertanian.

Teknologi tersebut didiseminasikan secara massif. Bahkan untuk jagung hibrida, Balitbangtan telah mendapat dukungan DPR untuk masuk program pengembangan jagung nasional.

Banyak inovasi diseminasi yang telah dikembangkan. Karena itu tidak heran apabila tingkat adopsi teknologi Balitbangtan Kementan jauh lebih cepat dan luas dibanding beberapa tahun yang lalu. Hasilnya bisa dilihat dari perkembangan luas varietas unggul baru (VUB) padi dan jagung hibrida. Kesiapan logistik benih-benih unggul tahun ini dalam mendukung tahun perbenihan Kementan pun praktis banyak mengandalkan Balitbangtan.

Upaya sungguh-sungguh Balitbangtan juga dapat dilihat dari metode perakitan varietas unggul baru. Kini, Balitbangtan mulai menghasilkan varietas unggul menggunakan bioteknologi. Bioteknologi yang digunakan adalah bioteknologi in vitro (selular) dan marka molekuler yang aman. Teknologi yang menghasilkan produk rekayasa genetika (PRG) juga tetap digunakan, namun diprioritaskan untuk mengatasi beberapa permasalahan yang sulit diatasi dengan in vitro dan marka.

Perakitan varietas unggul dengan Bioteknologi mulai terlihat hasilnya. Balitbangtan kini sedang melepas varietas unggul cabai hasil bioteknologi in vitro yang aman hasil kolaborasi dua unit pelaksana teknis (UPT)-nya, yaitu BB Biogen dan Balitsa. Calon varietas tersebut telah menjalani uji tahap akhir dan perbanyakan benih sejak tahun lalu di Kabupaten Cianjur, Bandung Barat, dan Garut.

Saat ini, pertanaman dapat dilihat di lahan kebun percobaan (KP) Pacet dan lahan petani di Pacet, Kabupaten Cianjur. Cabai hasil bioteknologi tersebut diusulkan diberi nama Carvi Agrihorti.

Menurut pemulia cabai Dr Ifa Manzila, cabai Carvi Agrihorti merupakan calon varietas unggul baru yang dirakit dengan Bioteknologi selular, memiliki sifat tahan terhadap serangan virus belang cabai, dan adaptif di dataran tinggi. Selain itu, potensi hasil cabai yang siap panen pada umur 95 hari ini cukup tinggi, yakni mencapai 23 ton per hektare.

Tata, petani lokal yang telah menanam cabai tersebut, mengaku puas dan menyukai varietas cabai tersebut. Alasannya, cabai yang telah ditanamnya memiliki banyak keunggulan.

Kepala BB Biogen, Mastur, berharap, cabai tersebut segera dapat dilepas dan diperbanyak benihnya. Demikian halnya upaya diseminasi, seperti gelar teknologi, perlu dilaksanakan segera agar hasil para pemulia dapat segera diadopsi para petani. (rol)